Selasa, 10 Juni 2014

Istana Kita

Tempat ini mengajarkan banyak hal.
Meski tak seindah istana sang raja dan permaisurinya..
Meski tak sesejuk udara pegunungan..
Meski tak senyaman di tepian pantai dengan hembusan anginnya..
Meski tak seluas samudra..
Dan
Meski tak seelok gedung merdeka..

Tempat ini bersejarah, bukan sejarah tentang penjajahan para kompeni-kompeni jahat yang menyerang untuk perebutan kekuatan kekuasaan.
Sejarah disini berarti, mungkin hanya berarti bagiku. Entah bagaimana denganmu, wahai Pak Kompeni sang penjajah hasrat.
Awal aku datang ke tempat ini, aku bersamamu. Ingatkah?
Tujuan utama kita mendatangi lahan ini hanya sekedar mencari tempat berteduh agar kau tak lagi gundah dengan persoalan-persoalan yang membuat mulutmu bungkam untuk bercerita. Hanya sekedar berteduh sementara, berbagi cerita, dan menemukan suasana baru yang mungkin membuat hati lebih sedikit lega.
Disini kita berbagi cerita, cerita keluh kesah, bahagia, sedih bahkan tak jarang pula terbanjiri ombak airmata. Dan ternyata disini aku menemukan suatu hal, sesuatu yang harus ku akui dan aku ungkapkan. Disini aku lebih mampu jujur, aku belajar kejujuran disini. Aku menumpahkan segala keluh kesah hatiku disini, iya bersamamu (lagi). Aku jujur atas perasaanku sendiri, tak lagi dengan ketersembunyian dan tak lagi dengan diam-diam. Cukup sakitku yang ku rasa diam-diam, dan kuharap kamu tak merasakan sakitnya.
Disini aku menemukan dan merasa apa itu bahagia. Bahagia bersamamu dan saling mengungkapkan bahkan bercerita tentang perasaan satu sama lain, dan.. Lagi-lagi aku mampu jujur atas perasaanku.
Disini aku melihat banyak hal, melihat dan merasakan apa itu sakit? Sakit melihat kesayangan dipeluk orang lain didepan mata. Sakit melihat kesayangan bahagia dengan yang lain. Sakit itu simple kan? Iya, cukup dengan melihat.
Disini tak jarang aku dengar suara favorit lokasi kita, hobi kita dan kecintaan kita. Suara gemuruh sungai, aliran-aliran sungai yang mengalir deras seolah menjadi soundtrack di tiap-tiap cerita yang kita lantunkan. Tenangnya suara air, membuat aku terhanyut atas kenyamanan tempat ini. Tidakkah kau merasakan hal yang sama? Akankah merindukan tempat ini? Istana kita.
Disini aku temukan banyak hal.
Disini aku belajar banyak hal.
Aku belajar apa itu ketenangan, apa itu keikhlasan, apa itu kebersamaan, saling berbagi, kantuk, lelah, semangat, ceria, gundah, semua pernah terpancar disini. Istana kita.
Kini tempat ini tak lagi ada. Hanya tersisa 2 tiang penyanggah dan sisi kanan dinding, bagian yang lain hilang ikut dengan derasnya bandang yang datang tiba-tiba disaat itu. Di dinding ini masih terlukis jelas gambar-gambar tak berbentuk yang sengaja kita gambar saat menghabiskan waktu luang dan bingung untuk melakukan apa. Disini jelas, iya jelas. Sejelas kenangan kita selama disini.
Aku masih ingat satu perkataanmu:
"Kita tak perlu mengumumkan bagaimana tentang kita dan bagaimana suka duka kita. Aku cukup bahagia dengan apa yang aku alami, apa iya harus aku umumkan bila aku sedang sedih? Apa aku harus umumkan bila aku sedang bahagia? Apa aku harus umumkan bila aku sedang gundah? Tak selalu dan tak semua hal harus di proklamasikan didepan semua orang, karna aku cukup puas dengan apa yang aku alami. Itulah caraku bersyukur"
Banyak yang kau tanam difikiranku, banyak yang kau beri untuk hatiku. Semua pembelajaran ku temukan disini.
Sedih memang, tapi sedihku tak akan mampu mengembalikan istana kita yang sudah raib dibawa pergi bersama derasnya air sungai. Biar mereka membawanya pergi, mungkin mereka iri dengan kebersamaan kita selama ini, ah abaikan.
Hai sang penakluk..
Apa kau akan merindukan tempat ini? Tempat dimana kau menyemangati aku, tempat kau menghiburku saat aku terjerembab dalam kegundahan, tempat kau menenangkan aku saat aku ketakutan, tempat kau menjaga aku saat aku terlelap, tempat kau membuat garis senyum di bibirku saat aku jatuh..
Akankah kau rindu? Atau kau lupa begitu saja?
Dan yang harus kau pahami, kau tak perlu memberi pertanyaan yang sama untukku. Karna aku sudah pasti akan dan selalu merindukan tempat ini,

Istana kita..

0 komentar:

Posting Komentar