WELCOME

Wilujeng Sumping Selamat Datang di Website Lya Nurcahyanti :).

KESENDIRIAN

Ada saatnya dalam hidupmu engkau ingin sendiri saja bersama angin menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata. (Bung Karno, 1933)

AKUNYA SAMA SIAPA?

Ganteng-ganteng kok hobinya nerobos pintu perlintasan? Kalo kamu mati, terus akunya sama siapa?

KISAH CINTA RF

Kunjungi Blog yang berisi tentang kisah cinta para penggila kereta api :)

AYAH TERHEBAT

Ukuran seorang Ayah yg SUKSES bukanlah PRIA yg paling KAYA, melainkan seorang AYAH yang anak PEREMPUANnya berkata: "Aku ingin seorang SUAMI yang seperti Ayah"

MEMANTASKAN DIRI

Ketika kita mengharap dipertemukan JODOH yang mulia, berusahalah untuk memuliakan diri sendiri. Karena ini janji Allah: Orang baik akan dipertemukan dengan orang baik. So, "Muhammad-kan dirimu agar Allah meng-Khadijah-kan jodohmu, Fatimah-kan dirimu agar Allah meng-Ali-kan kekasihmu"

KEBAHAGIAAN

Aku tak perlu mendefinisikan apa itu bahagia. Karna menemukanmu saja sudah lebih dari definisinya.

AYAH

Hai Pahlawan keluarga.. Senyummu merindukan sekali, tak pernah luput rinduku saat senyummu tak lagi tergaris ...

IBUKU JUGA PAHLAWANKU

Ibu... Masihkah kau bersemangat untuk menggaris senyumanmu untuk anak-anakmu ini?

SAKITNYA TUH DISINI

Sakitnya tuh di sini Di dalam hatiku, Sakitnya tuh di sini Melihat kau selingkuh. Sakitnya tuh di sini Pas kena hatiku, Sakitnya tuh di sini Kau menduakan aku

GEMESIN

Jangan bikin aku gemes. Kalo sampe naksir, aku gamau nanggung... :P

SUPPORT

“All will be fine, u must be strong!! I believe u could pass it all. Keep ur smile on ur lips. U can do it!!”

TIGA SERANGKAI

Firly, Sasa dan teh Rifdah :)

CSM KAI

Dinas CSM di Stasiun saat berpuasa itu sesuatu, benar-benar perjuangan. Tapi senyum dan semangat harus selalu terpancar :)

BERBUKA PUASA

Selamat berbuka Puasa ya buat kamu, iya kamu ... :*

IDUL FITRI 1435

Ence ngucapin selamat hari raya Idul Fitri 1435 H. Mohon maaf lahir dan bathin :)

NARSIS

Narsis Dikit sebelum berangkat kuliah boleh doooong? :)

HAAAAAAAA

Kata siapa aku galak? aku ini lemah lembut lhoooooo ..... :P

ASSALAMUALAIKUM

Hai .... :)

I'M RAILFANS

Kereta Api memang benda MATI, tapi disanalah aku banyak temukan pelajaran tentang HIDUP, Jangan sekalipun coba untuk Jauhkan Aku Darinya !

GAK SELALU

Gak selalu aku cantik (katanya) ada kalanya aku ancur, norak, Iseng, Usil, kocak dan bikin teman-teman malu punya teman kaya aku :D

RESERVASI TIKET

Beli tiket KA Mudah lho.. bisa dari Gadget kita ataupun ke Minimarket terdekat, ga perlu jauh-jauh ke Stasiun :)

AKU KULIAH DULU YAA

Menjalani Kewajiban dan Rutinitas, target: LULUS CUM LAUDE!!! BISA!!! Bikin Ayah Ibu BANGGA!!!

INILAH AKU

Tak peduli apa kata orang, inilah aku. berusaha menjadi pribadi terbaik dan dibanggakan kedua orang tuaku.

HERAN DEH??

Heh .... gak capek apa liatin fotoku terus?? :D

Jumat, 17 Oktober 2014

Hai Ayah Terhebat

Hai Pahlawan keluarga..
Senyummu merindukan sekali, tak pernah luput rinduku saat senyummu tak lagi tergaris ketika kau berjuang melawan rasa sakit itu..

Hai Ayah terhebat..
Selamat telah menjadi yang terbaik ditengah-tengah kami,
Bapak berhasil jadi bapak terkuat,
Bapak berhasil jadi bapak terhebat,
Bapak berhasil jadi sosok ayah buat anak buah bapak sendiri (sampe bikin mereka bener2 ngerasa punya ayah kedua di kantor),
Bapak berhasil jadi yang terbaik..



Hai Ayah terhebat..
Aku tak bisa pungkiri lagi rasa cintaku terhadapmu,
Aku tak akan pernah sungkan untuk membanggakan semua tentangmu,
Aku tak akan pernah ingin berhenti untuk mengikuti segala kehebatanmu dan kekuatanmu..

Hai Ayah terhebat..
Saat kau tak lagi mampu mengucapkan kata-kata, saat kau tak lagi mampu menatap dunia, dan saat kau tak lagi menggaris senyumanmu lagi
Aku sangat sedih
Sangaaaaaat sedih..

Tapi aku belajar dari kehebatanmu, aku mengagumi kekuatanmu..
Aku memelukmu erat dengan suhu tubuhmu yang t'lah mendingin kaku dihadapanku
Aku kecup seluruh paras tampanmu yang terlihat suci dan berseri..

Aku bangga padamu ayah..
Aku kagum padamu..
Dengan kondisi terakhirmu yang tergolong lemah kau masih bisa bicara didepan mimbar, dihadapan kebanyakan orang..
Meski dengan cucur keringat dan menahan rasa sakit, dengan segala kekuatanmu kau tak memperlihatkan kesakitanmu itu..

Kau hebat ayah..
Aku sayang padamu..

Hangat pelukku mungkin memang tak lagi membuatmu merasa hangat lagi, tapi setidaknya aku bisa memeluk seseorang pahlawan kebanggaanku..

Memeluk jasad yang telah berguna dan dicintai di kebanyakan orang karna sifatnya yang penyabar, murah senyum dan tawakal..
Memeluk jasad yang telah membimbing aku untuk mencintai dan menyayangi orangtua..
Memeluk jasad yang selalu membuatku tersenyum dan nyaman ketika akubrapuh dirumah..
Kau ayah, iya..
Kau..
Kebanggaan di hidupku..

Ragamu memang tak lagi ada, tapi segala tentangmu akan selalu mengiringi langkahku..

Created by:
@Lya_cahyanth | Lya Nurcahyanti

Senin, 13 Oktober 2014

Hari Terakhir Ayah

Aku sudah sebesar ini, 20 tahun. Terlahir dari seorang ayah yang pembangun dan seorang ibu yang pembangkit. Kali ini tanganku ingin bergerak menceritakan sedikit tentang sosok sang Ayahku..

Perkenalkan, ayahku bernama Suyitno, memiliki kelahiran di Kota Ponorogo dan lahir pada 3 Mei 1966. Ayahku bekerja sudah 20 tahun lamanya di PT kesayangannya, PT YAMAHA INDONESIA MOTOR, MFG (wow, sama dengan umurku kan).


Ayahku sosok yang kuat, baik hati, ramah, dan dermawan (bukan aku yang bilang, tapi di kebanyakan orang, aku pun mengakui hal yang sama). Di akhir ayah ingin menutup matanya untuk selamanya, satu hari sebelum ayah jatuh sakit (Tepat di hari Sabtu) yang dimana ia benar-benar drop, ia memintaku untuk menjemputnya ke kantor. Ia menelpon ibu..

“Assalamualaikum Bu, Lia udah pulang belum?”
“Waalaikumsalam, udah yah lagi di kamar. Kenapa?”
“Tolong suruh jemput ayah ya bu, kepala ayah pusing banget ini lemes ga kuat bawa motor..”
“Iya yah, jemput dimana? Biar ibu bilangin”
“Di kantor aja”

Tak lama kemudian ibu bilang padaku untuk menjemput ayah dan aku bergegas menjemputnya bersama rekan adikku (sebut saja namanya Ridwan).

“Bang, jalannya agak ngebut aja ya. Kasian ayah nanti kelamaan..”
“Oh iya..”

Setelahnya sampai didepan kantor, aku langsung telepon ayah lagi.

“Dimana yah? Aku udah didepan kantor”
“Ya kejauhan ya, ayah udah didepan sahabat (salah satu nama Toko di Cakung). Lia muter balik aja lagi, ayah tungguin”
“Oh gitu, yaudah tunggu ya”

Akhirnya aku muter balik arah. Sesampainya dan seketemunya dengan ayah, aku meminta kunci motornya agar aku yang mengendarai motornya. Tapi ayah tak mengizinkanku untuk memboncengnya..

“Yah mana sini kuncinya? Aku bonceng aja, atau ayah mau sama Ridwan?”
“Ga usah deh ya, ayah udah ga pusing. Lia naik aja biar ayah yang bonceng”
“Yah gimana kan aku tujuannya jemput ayah, masa tetep ayah yang bawa motor?”
“Udah yu cepetan”

Dan aku pun naik diboncengan ayah, aku sedikit agak takut akan kondisi ayah karena tadi ibu bilang ayah sedang sakit. Tapi ini ayah malah memaksaku untuk tidak membawa motornya.

Keesokan harinya adalah hari Minggu, bertepatan dengan hari Raya Idul Adha 1435H. Kebetulan ayah memang panitia Qurban. Pagi itu ayah terlihat sibuk sekali didepan lemari untuk memilih baju koko yang akan ia pakai, padahal ia masih sakit tapi ia terlihat bersemangat sekali.

“Bu, ayah mau pakai koko putih yang buat umroh waktu itu dong. Sama jaketnya ya bu, soalnya masih ga enak badan”

Pagi itu ayah rapih sekali. Dengan koko putih terlapisi jaket hitam dan sarung barunya dari pemberian masjid. Ayah terlihat berseri. Pagi itu aku dan keluarga memang berangkat ke masjid bersama-sama, seperti biasa beriringan.

Ayah berdiri di mimbar. Membuka acara sholat ied dengan mengumumkan amal-amal yang masuk ke dalam kas masjid, serta mengumumkan para peserta yang ikut menyisihkan sebagian hartanya untuk berqurban. Suara ayah memang sangat berat, berat sekali. Keringatnya tak berhenti mengalir deras, dan tak jarang pula ia hampir terjatuh karena lemas. Aku menatapnya dari kejauhan, “Ayah kenapa”.
Setelah sholat ied selesai, aku, ibu dan adikku kembali ke rumah. Aku sudah menyusun kursi untuk foto bersama nanti ketika ayah pulang. Tapi tak lama kemudian ada rekan ayah yang datang ke rumah dan mengatakan bahwa ayah pingsan di masjid saat selesai sholat ied. Aku bergegas mengeluarkan motor dan menjemput ayah. Aku lihat keadaan ayah, lemas, dengan kucuran keringat yang membasahi sekujur tubuhnya. Khawatir, takut, panik, semua menyatu di benakku.

“Ayah mau pulang? Aku bawa motor buat jemput ayah. Ini aku bawa roti”
“Nanti ya pulangnya. Ayah makan dulu, trus ayah tidur dulu sebentar. Ayah masih pusing banget”
“Iya yah”

Aku tunggu hingga ia terlelap dan menunggunya bangun. Tak lama ia terbangun dan minum air. Rekannya datang dan menawarkannya untuk mengantarkan ayah pulang. Mungkin ia berfikir bila aku yang membawa ayah pulang dalam kondisi seperti ini, aku tak akan mampu menahan ayah di perjalanan nanti. Akhirnya ayah pulang diantar rekannya.

Setelah sesampainya dirumah ayah langsung tertidur. Seharian itu ayah hanya tidur dan makan, aku tak begitu khawatir karena ayah makan dengan sangat lahap, senang melihatnya. Namun sorenya ayah minta untuk dituntun ke kamar mandi untuk ambil wudhu dan sholat ashar. Setelah sholat ashar ayah muntah-muntah. Aku takut, dan aku memaksa untuk membawa ayah ke rumah sakit. Akhirnya ayah mau kerumah sakit setelah dibujuk-bujuk.

Kondisi masih sama, ayah masih terlihat lemas. Keesokannya saat sore hari sepulang aku kuliah aku mulai mengkhawatirkannya kembali. Ayah sudah tak bisa makan dan minum. Ia bilang bahwa tenggorokannya tertutup reak, dan sebelumnya ia bilang bahwa ia sama sekali tak batuk. Aku bertanya pada dokter jaga yang berada didalam ruang ICU itu “Dok, ayah kenapa ada reaknya? Makanannya jadi ga mau masuk, minum juga susah”

“Itu penyumbatan karena hipertensinya mengenai saraf yang berada di tenggorokan, tenang aja kan masih diinfus”

Aku diam dan kembali ke tempat ayah. Ayah berkata..

“Ya, ayah laper. Ayah mau makan, ayah mau minum. Tapi tenggorokan ayah ga bisa nerima itu”

Mendengar itu hatiku terenyuh, seperti terdobrak palu terkeras. Aku sedih.

“Ayah mau makan apa? Biar aku ambilin. Diruang tunggu banyak roti pisang coklat keju kesukaan ayah, ayah mau?”
“Boleh ya”
“Sebentar ya”

Tak lama kemudian aku kembali ketempat ayah dengan membawa sepotong roti. Ayah memakannya, tapi ia kembali memuntahkannya. Pemandangan ini membuat aku semakin berat.

“Ayah sabar ya, itu lagi pengobatan. Ayah tidur aja, mungkin besok udah pulih lagi”

Ayah pun menyandarkan kepalanya kembali ke bantal dan tertidur. Aku keluar ruangan ICU sambil meneteskan airmata, berdoa pada Allah agar diangkat penyakitnya. Aku tak akan mampu melihat ayah dalam kondisi seperti ini terus.

Jam 23.00, aku kembali kerumah dan beristirahat. Keesokan harinya, ibu terlebih dahulu berangkat ke rumah sakit. Niatku nanti sekitar abis zuhur aku akan menyusulnya. Tapi ternyata tidak. Jam 10.00 ibu menelponku dengan teriakan tangis, memenuhi seluruh lorong handphone yang membuat aku lemas dan terjerembab dalam kebingungan..

“Liaaaaaa, ayah liaaaaaa. Cepat kerumah sakit sekarrrrrr........aanggggggg” (dengan nada yang tak jelas disertai isaknya)

Aku dirumah ikut panik dan tak bisa bicara. Aku bergegas ke rumah sakit dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Yang aku dengar di ruang itu hanya tangisan ibu dan bude (yang kebetulan sedang menjenguk), mereka nangis sesenggukan. Dan aku bertekad untuk masuk ICU.

Ayah kenapa?” (dengan air mata yang tak ada henti-hentinya menangis dan berharap bahwa ada berita yang baik untuk menghentikan airmata ini)
“Tolong mba nya diluar dulu sebentar, kami sedang melakukan tindakan” suasana ICU saat itu sedang ramai kerumunan dokter yang menutupi pandanganku ke arah ayah.

Aku kembali keluar dan menunggu panggilan dokter. Tak lama kemudian..

“Silahkan masuk..”
“Ayah kenapa?”
“Ayahmu tadi sempat berhenti. Maksudnya memang tadi seluruh aktifitas ditubuhnya berhenti tiba-tiba, tidak bernafas, darah tidak mengalir dan kornea menyempit. Namun saat ini kami melakukan tindakan emergency, ayah anda bisa bernafas dengan menggunakan alat yang terpasang di mulutnya. Untuk saat ini ayah anda kondisinya koma atau kritis”
“Lakukan yang terbaik ya, dok”

Mendengar hasil itu aku sedikit lega, namun sesak dan sedihku masih sama. Dalam kondisi itu aku sudah tak bisa lagi bicara pada ayah, aku sudah tak bisa lagi menyuapi ayah makan, aku sudah tak bisa lagi melihat ayah tersenyum. Aku keluar ICU dan mencoba menenangkan ibu dan adik yang baru datang, sebisa mungkin aku mencoba mereka untuk tenang dan berfikir bahwa ayah bisa sembuh. Mereka memang tak berhenti menangis, dan hingga aku bingung aku harus berbuat apa.

Posisiku disini aku adalah anak pertama. Apapun yang terjadi aku harus lebih kuat dari ibu dan adikku. Mereka tak mampu melihat ayah seperti ini, setiap mereka lihat pasti akan jatuh pingsan. Jadi biar aku yang menjaga ayah selama koma di ICU. Selama ayah koma, aku tak pernah berhenti untuk mengajaknya bicara dan mengajaknya ‘tuk pulang. Aku pun tak pernah lupa untuk mengiringinya dengan kalimat suci favoritnya “Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallaaah, huwallaahu akbar..”, aku slalu membisikannya setiap selesai aku mengobrol dengan ayah. Kenapa ayah suka dengan kalimat itu? Karena ia sangat senang sekali dengan suasana yang amat tenang dan nyaman dengan lafadz itu.

Melihat perkembangan demi perkembangan yang terjadi pada ayah di rumah sakit. Sesekali aku memandang wajah ayah dan berharap ayah akan menggerakan kepalanya dan membukakan matanya untukku, ah tapi tidak.. ayah tak kunjung bangun. Tak jarang aku mendekap tubuhnya, berharap agar ayah bergerak dan tangannya menyentuh tanganku. Tapi ayah tak kunjung membuka matanya, ayah.. bangun ayah.. aku akan siapkan makanan, kau belum makan dari kemarin, aku tau kau pasti lapar dan haus.

Esok malamnya aku memutuskan untuk mengurus surat rujukan rumah sakit ayah. Karena ibu dan aku fikir, mungkin dirumah sakit ini fasilitasnya kurang hingga tak terjadi perubahan sama sekali pada ayah. Aku mengurus semua surat-suratnya, karena aku harus lebih tegar dan aku tak boleh lemah. Biar ibu dan adik beristirahat karena terlalu banyak tangis dan kepikiran akan kesehatan ayah. Biar aku yang mondar-mandir naik-turun tangga untuk mengurus surat-surat rujukannya. Saat aku ingin menandatangani surat rujukan terakhir aku dipanggil oleh kakak sepupuku untu cepat-cepat naik..

“Liaaaaaa.. liaaaa cepat naik”
“Ayah kenapa?”

Hatiku mulai berdebar-debar tak karuan dan tak terarah. Dan terdengar kembali suara jeritan demi jeritan. Aku hampiri dan ternyata itu ibu, dan ketika kulihat sekelilingku sudah menangis dan sebagian mencoba membangunkan adikku yang jatuh pingsan. Kakiku lemas, pandanganku seperti memudar, tapi aku harus bergegas ke ruang ICU. Sesampainya diruang ICU aku melihat ayah sudah di pompa jantungnya, kedua kakinya dijepit dengan tujuan di setrum untuk memancing reaksi tubuhnya. Kanan kiriku sudah ada dua orang yang menahanku sejak tadi. Aku berjalan menuju kepala ayah, ingin mencium ayah.

Aku mencium ayah, mencium seluruh wajah ayah. Aku bisikkan di telinganya “Ayah, ini aku. Bangun plisss yah, bangun. Dengerin aku yaa.. Laa ilaahaillallaaah.. laa ilaahaillallaaah..” setelah aku mengucapkan itu dokter menyuruhku dan yang lain untuk menjauhi pasien.

“Tolong pak bu menjauh dari pasien, saya akan melakukan tindakan terakhir. Ini mungkin akan menentukan hasil akhir”

Tak lama kemudian dokter memperihatkan hasil print alat detak jantung dan nafas ayah. Dan hasilnya garis lurus. Tau apa artinya?? Ayah sudah tiadaaaaa..

Aku lemas, separuh tubuhku seperti hilang..
Pandanganku kabur dan airmataku tak berhenti mengalir..
Ayaaaahhhhh mengapa harus secepat ini?
Bukankah kau ingin melihatku wisuda?
Bukankah kau ingin naik haji bersama ibu?
Ayah, kau sudah berjanji untuk mendampingi aku saat aku menikah nanti kan?
Ayah bangunnnnnnnnnn..

Aku tak berhenti berteriak. Aku rapuh saat itu dan aku hancur. Ibu dan adikku juga melakukan hal yang sama.
Sepulangnya dirumah dan sesampainya jasad ayah dirumah, aku tak pernah lepas mendekapnya. Aku terus memeluknya meski aku dilihat banyak orang yang berdatangan. Aku bisikan pada ayah malam itu “Ayah, apa kau tau? Malam ini sungguh ramai. Mobil dan motor berhasil memenuhi jalan utama perumahan ini yah. Kau tau artinya? Banyak yang menyayangimu yah. Banyak yang menghormatimu. Kenapa kau tak bangun? Apa kau masih betah dengan mimpimu hingga kau tertidur lama seperti ini?”

Omonganku memang sudah ngelantur. Tapi aku tak pernah berhenti mengucapkan kalimat favorit ayah. Aku selalu bisikan ditelinganya “Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallaaah, huwallaahu akbar..” mulai dari ia ditaruh jasadnya di kasur empuk, hingga ia ingin dimandikan. Aku tak pernah lupa kalimat suci itu untuk mengiringi perjalananmu menuju surga yah, aku tak pernah lupa.

Kini ayah memang sudah tak ada raganya, tapi segalanya tentangmu masih tersimpan dan terukir yah. Dan tak akan pernah terhapus. Ayah ingat? Sepulangnya ayah dari Umroh, ayah bilang bahwa ayah selalu merindukan aku.

“Pas waktu ayah di pantai sana, ayah liat nama Lia disana. Ayah kangen banget sama Lia, tapi pas mau telepon ke Indonesia jaringannya susah banget, jadi ayah gajadi telepon. Pantai disana bagus banget. Kalo Lia tau pasti Lia seneng liatnya”
“Tuhkan yang diinget Lia doang, ibu sama dede engga?” ledek ibu saat itu.

Ayah..
Taukah kau? Setiap orang yang datang kesini tak luput dari tangisan-tangisan karena kehilanganmu yah. Mereka mengharapkanmu kembali. Sama seperti aku. Tangisnya mereka histeris sama seperti aku saat kehilanganmu. Mereka menyayangimu juga yah.

Ayah..
Aku tak pernah menyangka bahwa boncengan itu adalah boncengan terakhir darimu untukku. Aku tak pernah menduga bahwa kau tak akan pernah lagi mengantarku pergi kemanapun.

Ayah..
Aku tak pernah menduga bahwa suapanku malam itu adalah suapanku yang terakhir untukmu. Aku tak pernah mengira bahwa aku tak akan pernah menyuapimu makan lagi.

Ayah..
Kau sangat kuat..
Kau hebat, dan kau tangguh..
Ayah..
Aku merindukanmu..
Aku menyayangimu..
Dan tak akan pernah berhenti untuk hal itu..

Hari ini tepat 7 harimu, Ayah..
Aku sudah 7 hari tanpa hadirmu..
Doakan aku dari sana agar aku mampu menjalani semuanya ya, yah
Aku yakin bisa membuatmu dan Ibu bangga padaku kelak nanti..

Kau pergi tak seutuhnya yah..
Kau masih dihati ini yah..
Dan akan tetap mengiringi langkahku :)

(3 Mei 1966 - 8 Oktober 2014)

Jumat, 03 Oktober 2014

Mungkin Tidak Bagimu

Mungkin memang tiada arti..
Mungkin memang tak pernah berarti..

Kadang ingin berubah seperti kupu-kupu, yang bisa terbang kesana kemari menikmati keindahan taman beraroma sejuk dari bunga-bunga yang ada..
Kadang ingin seperti singa, yang ditakuti dan disegani semua rekannya karena ia dikenal sangat lah jahat..

Kau paham arti cinta?
Cinta yang datang tiba-tiba dan tanpa diharapkan..
Dan saat itu bisa membuat seseorang tampak seperti gila..
            Senyum-senyum sendiri dengan pandangan kosong
            Melamun kearah manapun ditengah keramaian
            Menanti layar gadget bermunculan nama sang cinta..

Ah bisakah sedikit di skip tentang hal ini?
Bukankah setiap orang memang di anugerahkan cinta?
Tapi mengapa tak semua cinta dapat dirasa dan bahkan hanya menjemput tangis?
Mengapa tak semua cinta dapat dipertahankan dan bahkan berujung menjauh lalu pergi?

Mungkin kamu memang tak menyadari bahwa dirimu tlah merasuk dalam raga ini..
Mungkin kamu memang tak menyadari bahwa hadirmu sangat berarti untukku..
Mungkin kamu memang tak mengetahui bahwa ada yang memperhatikanmu dari kejauhan meski dengan jarak dekat..
Atau mungkin aku memang tak ada artinya?

Dan aku harus paham, aku menganggapmu ada..
aku menganggapmu berarti..
aku menggapmu spesial..
aku menganggapmu yang terindah..
aku menganggapmu kebahagiaan..

                       Namun tidak bagimu..


By:                             
 @Lya_cahyanth